Dan akhirnya dari sikapmu, aku mulai tahu dan sadar akan sesuatu.
Bahwasanya kau, bukanlah apa yang kuharapkan. Kau bukanlah yang selalu bisa
menemaniku, menolongku, menghiburku, supaya aku melupakan segala penyebab isak
tangis itu.
Sempat ku berpikir bahwa kaulah orang yang menjadi tempat ketenangan
itu. Kau memiliki prinsip yang sama denganku. Kau akan membelaku ketika
orang-orang tak sepaham denganku. Tapi tidak, itu salah. Kau manusia biasa. Kau
bahkan sama seperti orang-orang lainnya. Kuakui mungkin memang belum saatnya.
Dulu, aku pun belum memahami betapa tak pentingnya itu semua saat ini.
Kadang kala kualami hal semacam emosi yang berlebih. Aku kecewa
dengan sikapmu. Aku ingin menunjukkan rasa itu kepadamu. Aku ingin bicara
banyak hal denganmu. Aku ingin memberitahumu apa yang kutahu tentang itu. Aku
ingin kau menjauhinya. Ya, menjauhi itu semua. Tapi aku sadar, aku bukanlah
siapa-sipa untukmu. Aku adalah keterpaksaan bagimu. Aku hanyalah sepotong
obsesi orang-orang terdekat itu. Yang membuatmu bosan, jenuh, dan kaku.
Dulu, memang aku terlalu berambisi. Betapa terlenanya aku waktu itu.
Betapa aku tak pernah berpikir hal-hal yang real. Yang ternyata semua hanya
berjalan di atas lintasan yang imaginer. Aku seperti terbawa pada kisah-kisah
pada dongeng yang absurd. Hingga akhirnya tingkat keterlenaan itu melonjak naik
dan mencapai titik klimaks. Dan seketika itu juga, terpantul oleh langit hingga
terjun ke jurang yang paling dalam. Dan itu rasanya sakit sekali.
Tapi saat ini, aku harus tahu diri. Aku pun mulai menjauhi. Menjauhi
apa yang pernah terjadi. Menjauhi angan-angan yang pernah mengelabui.
Mengakhiri... Ahh, dan lain-lain. Awalnya kukira tidak akan mengalami kesulitan
yang berarti. Tapi ternyata sulit. Mengakhirinya tak semudah dan secepat
memulainya. Butuh perjuangan. Butuh
kesibukan. Dan butuh jarak yang berjauhan.
Aku yakin, berlari menjauh adalah pilihan yang terbaik. Meski sakit,
tapi itu hanya sesaat. Hanya berupa angin lalu, yang tak lama lagi akan hilang
dan lenyap. Meski hati menjerit, tapi tetap selalu ada Yang Maha Menguasai
Hati. Yang dengan mengingat-NYA, hati dengan sendirinya akan tenang. Karena aku
menjauhi, supaya aku bisa menjaga hati. Dan itu karena perintah Sang Illahi
Rabbi.
*ceritanya yang punya akun ni lagi galau mau kuis 2 Struktur Aljabar
1 ^^v*
Tidak ada komentar:
Posting Komentar